FLP Jatim in Action

Thursday, April 14, 2005

Lautan Kasih Ibunda *)

Jika ada yang beranggapan bahwa tidak semua ibu pantas dicintai, anda harus membaca tulisan ini. Tidak semua orang sempat merasakan dekap kasih sayang ibu. Berbagai macam sebabnya, mulai dari ibunya meninggal, ibunya terlalu sibuk bekerja, ibunya yang memang terlalu keras atau memang ‘tidak dikehendaki’ oleh sang ibu atau karena keadaan lain sehingga sang ibu ‘terpaksa’ berpisah dengan anaknya.

Ibu selalu memiliki telaga kasih yang tak pernah kering.

Seorang ibu yang saya pernah temui bekerja mati-matian agar anaknya bisa sekolah, bisa makan, bisa menikmati hari-hari seperti anak-anak lainya. Meski harus mengumpulkan sampah kering untuk dijual lagi. Ada juga yang harus menjadi tukang sampah, tukang sapu bahkan pembantu rumah tangga. Itulah sebabnya banyak ibu ibu yang tetap bisa membesarkan anak anaknya meski sudah ditinggal suaminya. Energi cinta yang besar yang menjadikannya kuat.

Bagaimana dengan ibu yang tidak menghendaki anaknya.

Jangan salah, sesudah itu mereka disera penyesalan yang tak berujung. Dihantui rasa bersalah yang mencekam. Dengan taubat dan doa-doa panjang dia menjalani hari-harinya. Air mata yang tak kering membayang di pelupuknya. Kekhilafan yang dilakukannya pada saat itu biasanya karena bingung dan tidak menemukan jalan keluar yang baik. Bukan karena tidak mencintai anaknya. Karena macan pun tak akan memangsa anaknya sendiri.

Seorang anak lebih sering menuntut banyak dari ibunya.

Banyak sekali, padahal jika dihitung hitung pemberian ibu pada kita sudah lebih dari banyak! Di jaman sekarang ini, saat ibu ibu sudah makin sibuk berada di sektor publik, seorang anak menuntut ibunya untuk lebih perhatian, lebih banyak dirumah, lebih, dan lebih lagi. Seorang anak bahkan lingkungan di sekitarnya akan menyalahkan sang ibu jika anak menjadi tidak baik. Padahal tidak ada seorang ibupun yang menginginkan hal buruk terjadi pada sang anak.

Saya tak hendak hanya membela sang ibu namun saya mengajak kita semua untuk lebih arif memandang posisi ibu dengan segala kekurangan yang dimilikinya. Seorang ibu bercerita pada saya bahwa ia rela diperlakukan buruk oleh anaknya karena merasa belum memenuhi hak anak-anak yang sering ditinggalnya sejak kecil. Dia menyadari, mungkin dulu anak-anaknya sempat merasa kurang kasih sayang. Sehingga beliau pikir, ini adalah pembalasan yang pantas untuknya. Masya Allah. Tidakkah sang anak tau jika pun sang ibu tidak berada disisinya bukan semata-mata karena tidak sayang. Tapi memang banyak keadaan yang terkadang memisahkan sang anak dengan ibunya.

Ibu saya pernah menasehati, seorang ibu harus bisa bersikap seperti laut. Laut, hamparan air yang tak pernah kering. Seperti kasih ibu yang tak pernah habis. Cinta yang tak bertepi dan selalu mengaliri sejuk di hati anak-anaknya. Laut tidak protes meski manusia mengotorinya dengan segala macam sampah. Seperti itulah seorang ibu harus ikhlas menerima perlakuan apapun dari anaknya.

Apapun, karena itu adalah bagian dari pengabdian seorang ibu kepada Allah. Kadang dibantah, kadang diprotes, masih sering dicela karena tidak ‘sempurna’ menunaikan tugasnya sebagai ibu. Sebanyak apapun sampah di lautan tetap tidak akan mampu menutupi permukaan samudra, seperti itulah apapun perlakuan sang anak (harusnya)tidak akan mampu mengikis cinta. Laut justru rela dieksplorasi besar besaran oleh manusia. Seperti itulah ibu yang harus memberikan pengorbanan dan manfaat terbesar untuk anak-anaknya, sampai dia sendiri merasa sudah tidak punya apa-apa untuk diberikan lagi. Subhanallah.

Seburuk-buruk ibu, ia tetap manusia mulia yang doanya untuk kita tidak akan terhijab pada Allah. Doanya untuk kita lebih didengar dari doa kita sendiri. Apapun perlakuan dhohirnya yang kadang tidak kita suka, tapi batinnya tetap penuh cinta. Meskipun untuk anak anak yang merasa tidak dianggap anak oleh ibunya, tidak dicintai dan dibuang ibunya. Saatnya belajar memahami perlakuan apapun dari ibu pada kita, belajar memahami cara ibu mencintai kita yang mungkin tidak sama dengan keinginan kita.

Maafkanlah, seperti ibu juga selalu memaafkan kita.

Semua ibu, apapun, sejelek apapun perlakuannya berhak atas cinta kita karena Allah. Karena Allah kita mencoba ikhlas mencintainya. Bahkan, ibu Malin Kundang pun menyesal mengutuk anaknya. (Thank’s mom. Maaf)

*) Kurnia Damaywanti

Monday, April 04, 2005

Berbagai Berita Gembira Itu

2-April-2005.

"Pak, Haikal gak bisa hadir. Ini sudah ditunggu 7 orang akhwat! Pak Bahtiar ke sini kan?"

Ha? 7 orang akhwat? Kalau mereka adalah para pengurus dan simpatisan FLP yang sudah biasa datang di acara FLP, pasti ria tak akan menyebut seperti itu. Pasti teman-teman yang baru, pikirku.

SMS Ria itu menyibukkanku dari konsentrasi nyetir di keramaian jalan Panjang Jiwo yang macet. Lima menit yang lalu, Haikal mengirim SMS bahwa ia berhalangan hadir di pertemuan FLP hari Sabtu ini. Ada lemburan di kantor. Padahal, dua menit sebelumnya aku juga kirim SMS ke dia, karena akan telat datang. Seorang pasien "bekam" telah telat datang ke rumahku, sehingga prosesi buang darah kotor itu juga sedikit molor. Jadinya, aku -- serta istri dan anak-anakku yang pengin ikut -- setengah ngebut menuju Balai Pemuda. Ditambah lagi, sekarang sudah ditunggu sekian banyak orang.

Mereka ternyata dari PIAI (Pembinaan Ilmu Agama Islam) BEM FK Unair serta LEMBAR (Lembaga Pembinaan Anak dan Remaja) cabang Unair. Serta muncul kemudian Haniyah dari SMA Al-Irsyad Surabaya. Mereka adalah para anshar yang bergabung ke komunitas FLP untuk bekerja sama atau pun bergabung dalam dunia kepenulisan.

Entah mengapa, selepas Munas kemarin di Jogja, FLP Jatim seperti kedatangan begitu banyak berita gembira. Pada pembukaan Munas, saya telah bertemu dengan Taufiq Affandi, Ketua FLP Ponorogo. Ini FLP Cabang di Jatim yang telah lama kehilangan kontak. Pada pertemuan perdana selepas Munas, wakil-wakil dari FLP Malang, embrio FLP Cabang Gresik, embrio FLP Cabang Jember hadir. Belum lagi dari SMA Al-Irsyad Surabaya yang datang menawarkan kerjasama. Mungkin bisa menjadi FLP Ranting Al-Irsyad. Malam sebelum pertemuan, saya juga sempat kontak dengan Fera Andriyani Jakfar, mantan aktivis FLP Mesir, yang saat ini sudah pulang kampung. Ia tinggal di Bangkalan. Dia sudah membina komunitas yang bisa menjadi embrio FLP di PP Al-Amin Sumenep dan juga Universitas Trunojoyo Bangkalan, akunya. Belum lagi sudah puluhan kali, Untung Wahyudi, seorang "anggota FLP" di Sumenep menghubungi saya untuk mengaktifkan FLP di daerahnya.

Dan sekarang, di hadapan saya, telah ada para anshar yang lain, yang mengulurkan tangan mereka guna bekerja bersama-sama di bidang ini. Saya tak putus mengucap syukur di tengah kegembiraan ini.

Dalam dua bulan ke depan, FLP Jatim juga sudah disibukkan dengan tawaran untuk bedah buku Meretas Ungu, karya Pipiet Senja, dari GIP. Sudah berulang-kali saya diteror untuk kepastian acara tersebut. Insya Allah, 30 April acara tersebut akan digelar. Juga, dari Taufiq, ada upaya untuk membuat lanching buku Reva Floyd, karyanya, bekerja sama dengan GIP dan FLP Jatim. Belum cukup, mas Naijan Lengkong, ketua FLP Tangerang, pas saya ketemu dengannya beberapa waktu lalu, menawarkan dirinya untuk mengisi acara workshop penulisan skenario sehari.

Wah, otak saya sudah penuh dengan banyak rencana dengan adanya berbagai berita gembira ini. Rasanya, patut kiranya, kegembiraan ini saya bagikan kepada Anda semua.

Ayo, saling bertaut-tangan!

[]

Ditulis oleh: Bahtiar HS